Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Air Sedikit dan Air Banyak

Updated
3 min read
Air Sedikit dan Air Banyak
O

Semua hal yang bisa dituliskan adalah pengalaman berharga untuk hidup di masa depan. Selamat membaca dan terima kasih sudah mengunjungi blog kami.

Opiniku | 23 Oktober 2021 - Dalam ilmu fiqih kita mengenal ada dua macam air, yaitu air sedikit dan air banyak. Apakah perbedaan diantara keduanya?

Air sedikit adalah air yang kurang dari dua Qulah. Air sedikit disebut juga air 'mutanajjis' atau air yang berpotensi terkena najis, juga berpotensi sebagai air 'musta'mal' atau air yang tercampur bekas wudhu atau mandi wajib. Air sedikit bisa dipakai untuk bersuci, namun tingkat kehati-hatiannya sangat. Karena sedikit saja kemasukan najis walau satu titik, maka menjadi air 'mutanajjis' dan tidak sah dipakai bersuci. Selama tidak ada najis dan menjadi 'musta'mal', maka air sedikit sah dipakai bersuci.

Air banyak adalah air dua Qulah atau lebih. Air ini terhindar dari sifat 'mutanajjis' dan 'musta'mal'. Najis yang masuk ke dalam air ini tidak menjadi penghalang kesuciannya, selama tidak merubah warna, rasa dan bau. Air banyak juga disebut Air 'mutaghoyyir' atau air yang berubah. Kecenderungan air banyak adalah kuat dan aman, tidak rentan dengan najis dan zat yang masuk. Selama tidak terjadi perubahan pada warna, rasa dan bau, maka air banyak sah dipakai untuk bersuci.

Demikian perbedaan macam air untuk dipakai bersuci seperti wudhu (menghilangkan hadats kecil) atau mandi wajib (menghilangkan hadats besar). Inilah kaidah hukum dalam ilmu fiqih. Sekarang, mari kita tarik pemahaman ilmu Fiqih ini kepada sudut pandang kehidupan sehari-hari.

Dalam hubungan 'mu'amalah', kita akan banyak sekali bertemu dengan manusia. Kalau kita maknai diri kita adalah 'air sedikit' tentu rentan berhubungan dengan manusia yang berdosa. Kalau manusia yang berdosa seolah 'najis' (dalam ilmu fiqih), maka tatkala kita bersentuhan dengan mereka, kita akan menjadi 'mutanajjis'. Kita yang seperti 'air sedikit' akan menjadi najis ketika berhubungan dengan najis. Oleh karenanya, ulama banyak memberi nasehat, Akhlaq buruk itu akan menular. Kalau kita bergaul dengan orang yang suka maksiat, maka kita akan tertular menjadi suka maksiat. Kenapa? Karena kita adalah air sedikit.

Berbeda halnya kalau kita sebagai air banyak, mau bergaul dengan siapapun, orang yang berdosa atau berakhlak tercela, tidak akan berpengaruh terhadap dirinya. Selama kadar air kita lebih banyak dari najisnya. Justru sebaliknya, orang yang bermaksiat atau orang berdosa tatkala bergaul dengan manusia air banyak maka akan tertular menjadi baik.

Siapakah manusia yang mempunyai kapasitas air banyak? Orang yang mempunyai kapasitas air banyak adalah ulama dan orang-orang Sholeh. Siapapun yang bertemu mereka mesti terbawa menjadi baik. Tercerahkan hidupnya dan berubah menjadi Sholeh. InsyaAllah...

Kalau akhlaq buruk bisa menular, maka akhlaq baikpun demikian. Orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi, akan kebagian wanginya. Tapi orang yang bergaul dengan penjahat, akan kebagian dosanya.

Sebagai bahan renungan buat kita. Lihatlah diri kita sendiri. Apakah kita tergolong manusia air sedikit atau manusia air banyak? Kita ini orang biasa saja, atau kita ini orang Sholeh?

Kalau ternyata diri kita adalah orang biasa saja, maka mulai saat ini perhatikanlah pergaulan kita. Pilihlah teman yang bisa membawa kepada kebaikan. Jangan berteman dengan yang berpotensi berbuat dosa. Ingatlah, kita rentan terjangkit wabah maksiat, dosa dan akhlak tercela.

Perbanyaklah bergaul dengan orang-orang Sholeh. Seringkanlah duduk di Majelis Ilmu. Bangunlah tim yang isinya orang-orang baik. InsyaAllah kita akan selamat di dunia dan selamat di akhirat.

Berhubungan dengan ahli dzikir, kita akan menjadi ahli dzikir. Berhubungan dengan ahli ilmu, kita akan menjadi ahli ilmu. Berhubungan dengan orang yang punya keberkahan, maka hidup kita akan menjadi berkah.


Penulis : A. Zahari Aksam - ATTAQWA HMD

PRATAMA PRODUCT : Video Company Profile, Video Safety Induction, Short Movie

X
Xiajiyun1y ago

Dalam hubungan 'mu'amalah', kita akan banyak sekali bertemu dengan manusia. Kalau kita maknai diri kita adalah 'air sedikit' tentu rentan berhubungan dengan manusia yang berdosa. Kalau manusia yang berdosa seolah 'najis' (dalam ilmu fiqih), maka tatkala kita bersentuhan dengan mereka, kita akan menjadi 'mutanajjis'.

1

More from this blog

A

Abby Baca

47 posts

AbbyBaca adalah Blog yang membahas seputar masalah Agama, Kehidupan, Bisnis, Minat dan peluang. Semoga bermanfaat untuk anda. Terima kasih sudah membaca.