Belajar Dari Kesalahan

Opiniku | 26 Juli 2022 - Perjalanan memang sukar diperdiksi apa dan bagaimana kemungkinan yang akan terjadi. Kita bayangkan A, tapi terkadang yang hadir B. Kita kira C, namun yang datang D. Kesimpulannya, tidak ada yang mampu memprediksi apapun yang akan terjadi.
Hanya saja, saya melihat beberapa kemungkinan hal baik akan terjadi, jika diawali dengan niat yang ikhlas dan berdzikir kepada Allah SWT. Saya selalu memaknai bahwa 'kebutuhan' kita terhadap apapun menjadi tolak-ukur fokusnya kita dalam menjalaninya. Kesungguhan itu akan muncul tatkala kita tahu betul soal keuntungan apa dibalik semua itu. Tapi, tatkala kita tidak tahu, jangankan semangat yang muncul, niat untuk menjalaninya saja sudah tidak ada. Inilah kata kunci dari semuanya. Tahunya kita terhadap faidah sebuah amal akan membangkitkan rasa butuh terhadap amal itu. Kalau amal sudah menjadi kebutuhan, maka khusu' nya ibadah akan mudah kita rasakan. Wallahu a'lam.
Seperti semangatnya orang-orang lapangan dalam berusaha mencari finansial. Ide-ide mulai membuas, energi tak terbendung mulai muncul hingga lupa waktu dan sudah tidak terasa capek bergerak, meski berkerja hingga larut malam. Itulah manusia, ketika sudah menjadikan apapun sebagai kebutuhan, maka gairah itu akan muncul, tanpa perlu dipancing ataupun dipaksa.
Maka tak ayal, kalau kita jumpai ada seorang Ulama sholeh yang gemar sekali ibadah, mulutnya selalu basah berdzikir mengagungkan Allah, pancaran sinar di hatinya begitu indah, jelas sekali tergambar di wajahnya. Beliau terlihat nikmat sekali menjalani ibadah. Sehingga, apa yang ia ucapkan adalah hikmah. Yang ia perbuat adalah amal kebaikan. Ternyata beliau sudah berhasil memaknai ibadah sebagai kebutuhan.
Mengaji ilmu mendapatkan hikmah
Itulah pentingnya mengaji. Dengan mengaji kita bisa mendapatkan ilmu, yang mengarahkan kita kepada memahami hikmah ataupun faidah dibalik semua amal yang kita kerjakan.
Semakin kita ketahui bahkan dirasakan hikmah tersebut. Maka perlahan-lahan rasa butuh akan tumbuh. Ibadah yang kita kerjakan, tidak lagi menjadi beban dan juga bukan sekedar menggugurkan kewajiban. Tapi kita sangat-sangatlah butuh terhadap ibadah. Bahkan akhirnya, kita sudah tidak melihat lagi ibadahnya, tetapi yang kita butuhkan adalah Allah SWT.
Allah SWT yang menciptakan kita semua berikut semua makhluk di langit dan di bumi. Allah adalah Tuhan yang mengatur semuanya. Ketergantungan kita sebagai hamba sudah sangat jelas hanya kepada-Nya. Allah SWT adalah tempat kita meminta, tempat kita mengadu dan satu-satunya yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk di langit dan di bumi.
Alhasil, kebutuhan kita sejatinya mengarah kepada kebutuhan kita kepada Allah SWT. Caranya sampai ke sana, mengaji di majlis ilmu kepada guru yang bersandar sampai Rosulullah, muncullah pengetahuan-pengetahuan juga faidah dalam banyak hal. Setelah kita amalkan dengan mulazamah, akhirnya muncullah rasa butuh kita terhadap ibadah. Semakin rasa butuh itu memuncak, maka terbukalah rasa butuh sejati adalah kepada Allah. Hanya kepada Allah. Wallahu a'lam.
Keberkahan Waktu
Menjalani hidup hari demi hari, semakin terasa banyak sudah detik-detik yang terlewatkan dengan hal yang tidak bermanfaat. Saya jadi teringat pesan Guru : orang yang diberikan keberkahan waktu adalah ketika dalam waktu singkat banyak hal yang dikerjakan. Tentunya yang dikerjakan adalah bernilai ibadah. Inilah yang harus kita syukuri betul, tatkala kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT bisa melaksanakan ibadah. Meski... Baru sedikit sekali dari waktu yang diberikan Allah kita manfaatkan untuk ibadah. Ini yang harus kita perjuangkan. Ibadah dan ibadah...
Sesungguhnya Allah SWT yang menguasai waktu. Waktu sendiri adalah makhluk Allah yang tunduk kepada sang maha pencipta. Sejatinya kalau kita mau diberikan waktu yang bermanfaat, hendaknya mulailah dari berdoa dan berdzikir, meminta keberkahan waktu kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan keberkahan waktu. Aamiin...
Belajar dari kesalahan
Tidak ada seorangpun manusia yang selalu benar. Pun begitu halnya, tidak akan kita temukan manusia yang melulu salah. Mestilah manusia itu mengalami salah dan benar. Kalau makhluk yang selalu benar, namanya Malaikat. Dan makhluk yang senantiasa salah, namanya Syaithon. Menariknya, manusia memiliki kecenderungan salah dan juga benar.
Oleh sebab itu manusia yang paling baik kata Allah adalah manusia yang ketika berbuat salah, ia mau mengakui kesalahannya dan berusaha keras memperbaikinya. Itulah manusia yang bertaqwa. Sehingga, ketika manusia menjadi benar dan berjalan sesuai aturan Allah, mestilah didasari oleh karena belajar dari kesalahan.
Menyikapi belajar dari sebuah kesalahan, makna sejatinya bukan selalu berbuat salah dulu barulah kemudian berbuat baik. Belajar dari kesalahan adalah berjuang dan belajar. Belarlah dari kesalahan orang lain, tidak selalu kita sendiri yang berbuat kesalahan itu. Mulailah memperbesar rasa toleransi kepada sesama manusia. Karena manusia itu memang tempatnya salah dan lupa. Jadi wajar saja kalau manusia itu salah terus dan lupa terus.
Penulis : A. Zahari Aksam - ATTAQWA HMD
PRATAMA PRODUCT : Video Company Profile, Video Safety Induction, Short Movie





