Persepsi

Opiniku | 29 September 2021 - Persepsi kita tentang sesuatu, pemaknaan kita soal sesuatu, pengetahuan kita mengenai sesuatu, boleh jadi tidak sepenuhnya tepat dan sempurna. Karena semua itu hanya sebatas persepsi, pemaknaan atau pengetahuan yang bisa ditangkap oleh manusia. Sejatinya sesuatu itu seperti apa, hanya Alloh-lah yang maha tahu.
Jadi... Tatkala manusia mengatakan : "saya bisa" atau "saya tahu" benarkah kita sudah "Bisa"? Atau benarkah kita sudah "tahu"? Karena ketika kita mengatakan bisa, maka bisanya kita itu diukur dari kedalaman pengetahuan kita soal bisa itu. Seberapa faham kita soal bisa, maka seperti itulah bisanya kita.
Contoh : saya bisa buat kue, dan yang lain pun berkata demikian. Ketika kue itu jadi. Mesti ada perbedaan soal rasa dan hasilnya, meski bahannya sama.
Sama halnya dengan orang yang mengatakan tahu, maka tahunya itu diukur dari seberapa dalam pemaknaan kita soal itu. Seberapa faham kita soal pengetahuan, maka seperti itulah tahunya kita.
Contoh : saya tahu ilmu fiqih, pun begitu orang lain mengatakan. Tatkala masing-masing menjelaskan tentang bab yang sama. Mesti ada perbedaan dalam kedalaman pemaknaan soal pengetahuan itu. Meski yang dibahas bab yang sama.
Pada akhirnya, seorang manusia yang bertaqwa sering berucap : "insyaAllah saya bisa, tapi Hanya Alloh-lah yang maha kuasa" atau " insyaAllah saya tahu, tapi hanya Alloh-lah yang maha tahu".
Inilah prinsip hidup sejatinya. Semakin besar rasa penghambaan kita sebagai makhluk kepada sang Kholiq, maka seperti itulah kemuliaan yang ia akan dapatkan.
Semakin besar rasa ketidaktahuan kita soal ilmu meski banyak yang ia tahu, maka seperti itulah Allah akan perdalam ilmu dan diangkat derajatnya.
Dan hanya Alloh-lah yang maha mengetahui.
Penulis : A. Zahari Aksam - ATTAQWA HMD
PRATAMA PRODUCT : Video Company Profile, Video Safety Induction, Short Movie





